|
Ditulis oleh muji tp
|
|
Jumat, 17 Oktober 2008 10:46 |
|
Potret Kesederhanaan Seorang Dai
Sederhana dan ramah. Begitulah kesan yang tampak pada figur kita kali ini. Dia adalah seorang dai yang cukup dikenal masyarakat Solo. Suaranya yang khas tak asing bagi para pendengar MQFM Solo. Setiap Rabu pendengar MQFM bisa mendengar dan menyimak tausiahnya pada program Rumahku Surgaku segmen Bina Keluarga. Fotonya juga dapat dilihat di halaman Khazanah Solopos setiap edisi Jumat. Dia dipercaya untuk menjawab pertanyaan para pembaca dalam rubrik Konsultasi Keluarga. Sementara di Yayasan Nur Hidayah Islamic Centre, Ustadz Kasori saat ini diamanahi untuk memimpin Bidang Sosial dan Dakwah, sesuai dengan bidang yang digelutinya, dan menjadi Penanggungjawab Majalah Nur Hidayah ini. Nama lengkapnya adalah Kasori Mujahid. Karena aktivitasnya sehari-hari dalam dunia dakwah, orang menyapanya dengan sebutan Ustadz Kasori. Keseharian pria yang berkulit gelap atau imut (baca : ireng mutlak) ini memang tidak pernah lepas dari dunia dakwah. Setiap aktivitasnya selalu berkaitan dengan dakwah. Seakan-akan hidupnya telah menyatu dengan dakwah. Sejak remaja dia sudah aktif dalam kegiatan keagamaan dan berlanjut sampai rampung kuliah, bahkan hingga saat ini bersama sang istri tercinta tetap istiqamah dalam dakwah. Meskipun namanya banyak dikenal masyarakat Solo, namun dia mengaku tidak merasa sebagai orang terkenal. Ketika diminta untuk menjadi figur dalam edisi ini, ia malah mengatakan, “Opo ora ene wong liyo, nanti ndak ngabot-ngaboti majalahe, pekewuh enyong noo (apa tidak ada orang lain, nanti memberatkan majalahnya, tidak enak saya)”. Ibarat filosofi tanaman padi, makin berisi makin merunduk. Itulah kesan seorang sosok yang tawadhu’, tidak sombong, banyak berbagi dengan orang lain dalam membantu menyelesaikan masalah mereka.
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
Ditulis oleh aspriyanto
|
|
Senin, 01 September 2008 04:28 |
Waka Dewan Pembina Yayasan Nur Hidayah : Syukuri dan jangan pernah mengeluh”
Berdirinya Yayasan Nur Hidayah (YNH) tidak terlepas dari peran tiga orang yang sama-sama mempunyai niat mulia. Mereka berangkat dari niat dan disertai usaha sesuai kemampuannya untuk mengabdikan diri kepada Allah swt. Adalah H. Siswo Oetomo, H. S. Pudjo Seputro, B.A. dan H. Al Hisyam, S.E. M.M., merekalah tiga orang pertama yang merintis perjuangan di YNH. Kini, atas kerja keras dan ketekunan mereka, banyak orang yang ikut merasakan manfaat dari keberadaan yayasan ini.
“Semuanya adalah pertolongan Allah,” ujar Drs. H. Yulisto, Wakil Ketua Dewan Pembina YNH yang akan kita ungkap hikmah dari perjalanan hidupnya dan perannya diYNH. Tak pernah sedikitpun terbersit dalam hati dan pikiran para pendiri dan pengurus bahwa apa yang dicapai yayasan saat ini adalah hasil kerja keras mereka. Namun semuanya mengakui ini adalah pertolongan Allah.
“Kalau mau dipikir, tak mungkin bisa dilogika secara matematis. Ini sudah di luar logika manusia. Dari kisah ayah saya yang ikut merintis yayasan, tak pernah terpikirkan akan bisa maju sejauh ini. Ya, sekali lagi semua adalah karunia Allah. Tanpa pertolongan Allah tak mungkin bisa mengembangkan yayasan ini mengingat kita semua berangkat dari nol termasuk modal uang yang sangat minim,” papar putra salah satu pendiri YNH, H.S. Pudjo Seputro, B.A. ini mengenang kembali sejarah yayasan.
Tapi pertolongan Allah tidak datang begitu saja. Ada usaha yang dilakukan sebatas kemampuan setiap unsur di YNH yang diharapkan bisa mengundang pertolongan Allah. Ya, semua orang memang berusaha, tapi Allah jualah yang Maha Berkehendak, memberi pertolongan atau tidak. Karenanya dibutuhkan keikhlasan dan senantiasa bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan Allah. Sesuai dengan janji Allah dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah akan menambah nikmat-Nya kepada mereka yang bersyukur.
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh aspriyanto
|
|
Sabtu, 09 Agustus 2008 11:33 |
Setiap orang pastilah memiliki cita-cita atau keinginan. Seringkali cita-cita itulah yang mendorong seseorang untuk maju dan melakukan perubahan besar. Begitulah kiranya yang dialami tokoh kita kali ini. Berangkat dari pengalaman hidup dibesarkan sebagai seorang anak yatim sejak usia 4 tahun yang miskin, H. Siswo Oetomo mempunyai sebuah cita-cita sederhana tapi mulia, mendirikan panti asuhan. Bermanfaat bagi diri, keluarga, dan orang banyak yang membutuhkan sebagai bentuk ibadah hingga akhir hayat adalah cita-cita dan keinginan terbesar dalam hidupnya. Bersama dua orang rekannya, H. S. Pudjo Seputro, B.A. dan H. Al Hisyam, S.E., M.M., pada tahun 1992, pria yang akrab disapa Pak Sis ini mewujudkan cita-citanya dengan merintis pendirian yayasan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan, Yayasan Nur Hidayah.
Keterbatasan tidaklah menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Meskipun keluarga hanya dapat menyekolahkan sampai lulus SMA karena minimnya biaya, Pak Sis tidak putus asa. Berbekal ijazah SMA Pak Sis memutuskan untuk merantau ke Bandung dan Jakarta. Setelah satu tahun bekerja di perusahaan swasta, tahun 1963 Pak Sis akhirnya memperoleh pekerjaan tetap di sebuah bank milik pemerintah, Bank Bumi Daya (BBD, dulu Bank Umum Negara, sekarang Bank Mandiri). Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Pada tahun 1970 sembari tetap bekerja, dia pun berhasil menyelesaikan pendidikannya di Perguruan Tinggi Ilmu Keuangan dan Perbankan Jakarta. Pada tahun 1992, ketika mendirikan Yayasan Nur Hidayah, Pak Sis sedang bertugas sebagai Wakil Kepala Cabang BBD Surakarta.
Setelah mengabdi selama 34 tahun di BBD, pada tahun 1997 Pak Sis memutuskan mengundurkan diri dari jabatan terakhirnya sebagai Manajer Interner Audit Cabang se-Jateng di Kanwil BBD Yogyakarta. Alasannya ingin konsentrasi mengelola dan mengembangkan yayasan yang didirikannya, Yayasan Nur Hidayah di Surakarta, yang ketika itu baru saja meresmikan panti asuhan. Meski begitu, Pak Sis memperoleh penghargaan berupa status pensiun. Meninggalkan sebuah jabatan tinggi di bank dan memilih mengurus yayasan bukanlah tanpa pertimbangan. Dia menyadari akan adanya risiko yang dihadapinya dengan perubahan statusnya itu. Namun sudah menjadi komitmennya untuk mengembangkan dan mengelola Yayasan Nur Hidayah apa pun risikonya.
|
|
Baca selengkapnya...
|
|