| Ahmad Burhanuddin |
| Ditulis oleh aspriyanto | ||||||
| Selasa, 07 April 2009 10:27 | ||||||
|
Dari sekian banyak anak asuh di Panti Asuhan Nur Hidayah, mungkin dialah yang paling kelihatan menonjol. Pasalnya Ahmad Burhanuddin alias Burhan memiliki tubuh yang boleg dikatakan paling gemuk di antara anak-anak yang lainnya. Selain paling gemuk, siswa kelas XI SMA AL-Islam Surakarta ini juga merupakan anak asuh tertua di panti asuhan putra Kerten. Jadi wajar saja banyak anak yang segan kepadanya. Segan dalam artian hormat sekaligus takut karena anak-anak asuh mengenalnya sebagai kakak yang ‘galak’. Walaupun sebenarnya ‘kegalakannya’ itu bernilai positif, namun Burhan sendiri mengaku adik-adiknya banyak yang takut. Alasannya berbuat galak lebih tepat dikatakan sebagai bentuk tanggung jawab sebagai anak asuh tertua. Ibarat sebuah keluarga, anak tertua harus bisa menjadi teladan dan ngemong adik-adiknya. Begitupun sikap Burhan. Kepada MNH dia mengutarakan maksud hatinya bahwa dirinya tidak semata-mata galak tapi karena sayang kepada adiknya, dia tidak ingin mereka berperilaku tidak baik. Mungkin karena sering mengingatkan mereka untuk taat peraturan, shalat, mengerjakan tugas, dan mengikuti jadwal kegiatan di panti asuhan, banyak anak asuh yang beranggapan Mas Burhan galak. “Sebenarnya semua itu saya lakukan agar adik-adik disiplin, tertib, dan berusaha memberi contoh yang baik,” ungkapnya. Dua Kali Yatim Burhan adalah anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Alm. Bapak Abdusshomad dan Ibu Hamidahyang berasal dari Desa WaruSidorejo Sedan Rembang. Dua bersaudara itu menjadi anak yatim tatkala ayah mereka meninggal dunia karena menderita tekanan darah tinggi. Sang ibu dengan tabah menerima kenyataan harus menghidupi dua anak yang masih duduk di bangku madrasah aliyah dan ibtidaiyah.
Selang satu tahun lebih, Ibu Hamidah menikah lagi dengan seorang laki-laki berumur. Karena anak-anaknya terdahulu sudah berkeluarga perhatiannya kini tetumpu kepada dua anak tirinya. Tetapi sekali lagi, Burhan dan kakaknya menjadi yatim setelah suami ibunya itu meninggal dunia tiga tahun setelah menikah. Burhan benar-benar merasa kehilanga sosok seorang ayah saat melihat teman-temannya bercengkerama dengan ayah mereka. Tetapi Burhan pantang putus asa. Almarhum ayahnya yang dikenal tegas dan displin sudah memberinya bekal agama yang insya Allah kuat. Kedua anaknya disekolahkan di madrasah dengan harapan memperoleh pendidikan agama yang lebih baik dari sekolah umum. Justru Burhan dan kakaknya sangat menikmati pendidikan dari ayahnya itu. Meskipun setiap hari belajar ilmu agama, mereka tidak pernah merasa bosan. Bahkan prestasi di bidang umum pun tidak kalah dengan teman-temannya. Sejak masih sekolah di MI, Burhan sudah mulai mengumpulkan kepingan prestasi. Sampai sekarang duduk di SMA prestasinya terus meningkat. Beberapa raihan prestasi Burhan baik sendiri maupun bersama teman-temannya antara lain: finalis MTQ tingkat Provinsi 2006, Juara II Festival Nasyid ANN se-Jateng 2007, dan Juara III Menanyi Tunggal antarpanti asuhan se-Jateng 2008. Bagi Burhan, menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya lebih berkesan daripada melulu menasehati dengan kata-kata. biarpun dia anak tertua di panti, tetapi lead vocal grup nasyid Alkaline ini dengan senang hati menerima masukan dari kritik dari anak asuh yang lain. Bersama Alkaline, grup nasyid asuhan Bapak Indrawan, Burhan dan teman-temannya sudah akrab dengan panggung dan tampil di depan umum. Anak kelahiran Rembang 26 Oktober 1991 ini juga terlibat aktif di beberapa organisasi keislaman sekolah. Sebut saja Forum Komunikasi Kerohanian Islam Surakarta (Farois), Forum Remaja Berprestasi (Formasi), dan Rohis SMA AL-Islam. Dengan semua bekal yang diperolehnya selama di panti asuhan dan SMPIT Nur Hidayah (lulusan pertama), penyuka makan, nasyid, dan petualangan ini merangkai banyak cita-cita dan impian. Dia ingin menjadi enterpreneur, manager, psikolog, dan masih banyak lagi lainnya. Intinya, dia ingin menjadi orang yang bermanfaat dan produktif nantinya di masyarakat. Inilah yang diharapkannya akan dimiliki adik-adiknya di panti asuhan. “Supaya tidak selamanya mereka hanya bisa menerima. Tetapi belajarlah untuk memberi mulai dari sekarang.” Banyak harapan yang Burhan sematkan pada Panti Asuhan Nur Hidayah ini. Di sinilah dia bisa mengenal dunia luar, menata diri, belajar memimpin adik-adik sehingga lebih dewasa. Selamat berkarya Burhan!! (If)
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |





Aktivis yang Melankolis