| Taufiq Ahmad |
| Ditulis oleh aspriyanto | ||||||
| Selasa, 07 April 2009 10:17 | ||||||
|
Ingin Jadi Ustadz Anak ketiga dari pasangan Bapak almarhum Ahmad Hamid dan Ibu Siti Hartini ini rela berpisah dengan ibu dan saudara-saudaranya. Cukup pemberani untuk anak seusia Taufiq, di mana ketergantungan kepada orang tua masih sangat tinggi. Sementara di asrama panti asuhan anak-anak dididik untuk mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Taufiq merasa tidak masalah dengan semua itu. Sebelumnya di rumah selalu mengandalkan sang ibu, namun dengan cepat Taufiq bisa menyesuaikan diri dan belajar mandiri. Awalnya, Taufiq hanya ikut-ikutan temannya di asrama yang menunjukkan kemandirian dalam mengurus dirinya sendiri. Cuci piring setelah makan, mencuci baju dan menyeterika, semua dilakukannya bersama dengan teman-teman yang tidak pernah menganggapnya sebagai orang asing. Anak-anak asrama sudah terbiasa menganggap anak baru sebagai saudara sendiri sehingga membuat nyaman para anak baru. Ini yang agaknya membuat Taufiq betah tinggal di Panti Asuhan Banyuanyar. Berbeda dengan sang kakak yang hanya bertahan satu hari di asrama. Taufiq lebih mudah menyesuaikan diri dan membuka diri terhadap lingkungan baru.
Mudah Tersentuh Anak kelahiran Surakarta, 30 September 1998 ini tergolong anak yang ‘perasa’. Tidak banyak anak laki-laki yang seperti ini. Perasaannya mudah sekali tersentuh. Seperti saat MNH menyinggung soal sang Abah yang sudah tiada. Beberapa pertanyaan dijawabnya dengan lancar. Namun, beberapa saat kemudian wajahnya tampak tertunduk dan matanya berkaca-kaca. Wajar Taufiq merasa sedih mengenang almarhum Abah yang begitu disayanginya. Sudah dua tahun sang Abah meninggalkan Taufiq dan ibunya beserta keempat saudaranya. Semasa hidupnya, Abah sangat baik kepada keluarganya. Bukan berarti dia tidak pernah memarahi anak-anaknya, tetapi bisa menempatkan kemarahan sesuai kadarnya. “Biasanya jika saya belum shalat disuruh segera pergi ke masjid untuk shalat. Kadang saya tidak segera pergi, akhirnya Abah ambil sapu dan memukul saya,” ujarnya. Walaupun begitu, Taufiq tidak pernah menaruh kebencian atau dendam kepada sang Abah. Dia tahu, apa yang dilakukan Abahnya benar dan ingin anaknya menjadi anak yang baik. Sudah lama Abah sakit-sakitan sebelum akhirnya meninggal tahun 2006. Kira-kira sebulan lamanya dia dirawat di RS Yarsis pada akhir hayatnya karena menderita sakit gula. Ibunya yang biasa berjualan sayuran di Pasar Kliwon harus menemani suami tercinta dan meninggalkan mata pencahariannya itu. Padahal waktu itu hanya itu sumber pemasukan untuk menghidupi keluarganya, termasuk biaya pengobatan suami. Taufiq masih ingat betul harapan sang Abah, yakni ingin anak-anaknya bisa menguasai Al-Qur’an dan bahasa Arab. Alasannya selain bahasa Al-Qur’an, agar mereka dapat berkomunikasi dengan kelurga besarnya yang keturunan Arab. Keinginannya ini diwujudkan dengan menyekolahkan anak keduanya ke sebuah pondok di Karanganyar. Namun karena sebab tertentu kakak kedua Taufiq ini tidak bisa melanjutkan sekolahnya di sana. Taufiq sangat terkesan dengan seorang ustadz yang mengajar TPA di rumahnya, yakni Ustadz Ali. Karena kesan baik itu, Taufiq bercita-cita ingin menjadi seorang ustadz nantinya. Pandai mengaji dan membaca Al-Qur’an. Setelah di asrama, Taufiq punya ustadz baru, yakni Ayah, sang pengasuh. Bagi Taufiq yang sekarang duduk di kelas V SD Mujahidin ini, berpisah dengan ibu dan saudaranya adalah pengorbanan yang harus dilakukan untuk bisa memenuhi keinginan Abahnya.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |





Masuknya ke Panti Asuhan Nur Hidayah belum genap satu bulan ketika MNH bertemu dan berbincang-bincang dengannya. Akhir 2008, tepatnya 29 Desember 2008, Taufiq Ahmad yang memiliki nama panggilan Taufiq ini mulai tinggal di asrama Banyuanyar di bawah asuhan Bapak Slamet Jayadi dan istri. 