|
Ditulis oleh muji tp
|
Si Yatim Penggembala Kambing
Setiap orang memang unik dengan ciri khas dan cerita masing-masing. Begitu pula dengan anak-anak yatim-piatu yang tinggal di panti asuhan Nur Hidayah. Mereka memang anak-anak biasa, tetapi Allah sendiri telah menyematkan kemuliaan bagi mereka. Begitu juga dengan orang-orang yang mau peduli dan memperhatikan anak-anak yatim. Keunikan mereka tidak hanya pada garis takdir yang menempatkan mereka dalam kesusahan ekonomi, tetapi juga dalam karakter dan latar belakang keluarga. Seperti kisah anak panti yang satu ini.
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh muji tp
|
Tidak Ingin Memberatkan Ibu
Allah memberi cobaan, Allah jua yang memberi pertolongan. Beban hidup keluarga yang kini harus ditanggung oleh ibunda, Ibu Karni seorang diri makin membuatnya sedih, suami tak lagi menemani. Ketika itulah seorang lelaki yang mengaku dari panti asuhan di Kota Solo datang ke rumahnya di Ngandong, Kedung Ombo, Boyolali. Mendengar maksud kedatangannya, Ibu Karni trenyuh sekaligus senang ada jalan keluar atas masalahnya. Lelaki itu adalah Bapak Nur Abdul Wahid dari Panti Asuhan Nur Hidayah yang datang atas informasi dari Mbak Wahyuni, kakak Narko, bahwa ayah mereka baru saja meninggal dan keluarganya perlu bantuan.
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
Ditulis oleh muji tp
|
Ingin Melanjutkan Sekolah
Ariyanto atau akrab disapa Ari adalah satu-satunya anak asuh di Panti Asuhan Nur Hidayah yang lulus SMK. Remaja kelahiran Boyolali 24 Maret 19 tahun lalu ini menempuh studinya terakhir di SMKN 9 Surakarta. Dengan mengambil jurusan Kriya Kayu, Ari optimis bisa lulus dengan nilai yang baik. Selanjutnya, Ari ingin meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Siapa yang menyangka, remaja yang tidak memiliki memori tentang ibunya ini sukses belajar dan menamatkan hingga SMK. Keluarganya pasti bangga Ari tumbuh dalam lingkungan yang baik dan menorehkan prestasi yang baik pula. Mungkin, anak yang tidak kenal ibu seperti dirinya akan sulit berperilaku baik apalagi berprestasi. Kenyataan jauh dari sang ayah,orang tua satu-satunya makin menambah kekaguman kita betapa seorang Ari adalah remaja yan mandiri.
Ari tidak ingat sama sekali bagaimana dia kehilangan sang bunda, Almh. Ibu Kasinem. Bersama adik semata wayang, Susi yang juga tinggal di Panti Asuhan Nur Hidayah, Ari menjadi piatu entah sejak kapan. Cerita tentang bunda yang diperolehnya hanyalah dari sang kakek. Menurut kakeknya bundanya meninggal karena pendarahan. Tetapi kapan dan saat bagaimana, Ari sekali lagi mengaku tidak tahu. Yang dia lakukan sekarang hanya satu, senantiasa mendoakan bunda tercinta dan melanjutkan hidup dengan belajar dan tekun berusaha.
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
|
|
<< Mulai < Prev 1 2 Next > End >>
|
|
Halaman 1 dari 2 |